Tuesday, July 30, 2013

Jual Beli Dalam Islam


1.Pengertian Jual Beli
Jual  beli  adalah  merupakan  satu  komponen  dari  sistem  mua’malah yang   dipandang  memiliki manfaat   yang sangat besar dalam   lalu lintas perekonomian lslam, yakni terbentuknya masyarakat yang adil dan sejahtera. Perdagangan atau jual beli menurut bahasa berarti al-Bai’, al-tijarah dan  al-mubadalah Sebagaimana  Allah  SWT  berfirman  dalam  surah  Fathir ayat 29.
يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”
Menurut istilah (terminologi) yang dimaksud dengan jual beli adalah sebagai berikut:
a. Menukar barang dengan barang atau barang dengan uang dengan jalan melepaskan hak milik dari satu kepada yang lain atas dasar saling merelakan.
تَمْلِيْكُ عَيْنِ مَالِيَةِ بِمُعَاوَضَةٍ بِاِذْنِ شَرْعِيْ
“Pemilikan harta benda dengan jalan tukar-menukar yang sesuai dengan aturan Syara”
b. Akad jual beli tidak akan terjadi kecuali dengan shighat (ijab-qabul) baik dengan lisan atau pun dengan tulisan.
مُقَابَالَة مَالَ قَابِلَيْنِ لِلتَّصَرُفِ باِيْجَابِ وَقَبُوْلِ عَلَى الوَجْهِ المَأْذُوْنِ فِيْهِ
Saling tukar harta, saling menerima, dapat dikelola (tasharruf) dengan ijab dan qobul, dengan cara yang sesuai dengan Syara”.
c. Adanya barang yang di tukarkan dalam jual beli dengan cara yang di perbolehkan dalam islam.
مَقَابَلَةِ مَالَ بِمَالٍ عَلَى وَجْهِ مَخْصُوْصٍ
“Tukar-menukar benda dengan benda lain dengan cara yang khusus (dibolehkan)”.
d. Pihak yang melakukan transaksi harus saling rela tanpa ada paksaan dari pihak yang lain
مُبَادَلَةٍ مَالَ بِمَالِ عَلَى سَبِيْلِ التَّرَاضِى أَوْ نُقِلَ مِلْكُ بِعَوْضٍ عَلَى الوَجْهِ المَاْذُونِ فِيْهِ
“Penukar benda dengan benda lain dengan jalan saling merelakan atau memindahkan hak milik dengan ada penggantinya dengan cara yang dibolehkan”
e. Akad yang  jelas karena merupakan syarat sahnya dalam jual beli
عَقْدِ يَقُوْمً عَلَى أَسَاسِ مُبَادَلَةِ المَالَ بِالْمَالَ ليفيد تُبَادِلَ المِكْيَاتِ عَلَى الدَّوَامِ
“Aqad yang tegak atas dasar penukaran harta dengan harta, maka jadilah penukaran hak milik secara tetap”
Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa inti jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela di antara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya, sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan Syara’ dan disepakati. Sesuai dengan ketetapan hukum maksudnya ialah memenuhi persyaratan-persyaratan, rukun-rukun, dan hal-hal lain yang ada kaitannya dengan jual beli, dan bila syarat-syarat dan rukunnya tidak terpenuhi berarti tidak sesuai dengan kehendak Syara’.
Benda dapat mencakup pengertian barang dan uang, sedangkan sifat benda tersebut harus dapat dinilai, yakni benda-benda yang berharga dan dapat dibenarkan penggunaannya menurut Syara’. Benda itu adakalanya bergerak (dipindahkan) dan ada kalanya tetap (tidak dapat dipindahkan), ada yang dapat dibagi-bagi, ada kalanya tidak dapat di bagi-bagi, ada harta yang ada perumpamaannya (misli) dan ada yang menyerupai (qimi) dan yang lain-lainnya. Pengguna harta tersebut dibolehkan sepanjang tidak dilarang syara’.
Benda-benda itu seperti alkohol, babi, dan barang terlarang lainnya haram diperjual-belikan, sehingga jual beli tersebut dipandang batal dan jika dijadikan harga, penukar, maka jual beli tersebut dianggap fasid.

2. Dasar Hukum Jual Beli
a. Al-quran
Surat al baqarah ayat 275
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لا يَقُومُونَ إِلا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٧٥)
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila, Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
b. Hadis Nabi
 عنرفاعة بنرافعرضى الله عنه ان النبى صلى الله عليه وسلم سئل النبي ص.م اي الكسب أطيب فقال عمل الرجل بيده وكل يبع مبرور
Rifa’ah bin Rafi’i r.a berkata: Nabi SAW. Ditanya tentang mata pencaharian paling baik, beliau menjawab. Seorang bekerja dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur (Q.S. Al Bazar dan disahkan hakim)
Maksud mabrur  di atas ialah jual beli yang terhindar dari usaha tipu-menipu dan merugikan orang lain.
c. Ijma’:
Ulama' telah sepakat bahwa jual beli diperbolehkan dengan alasan bahwa manusia tidak akan mampu mencukupi kebutuhan dirinya, tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, bantuan atau barang milik orang lain yang dibutuhkannya itu, harus diganti dengan barang lainnya yang sesuai.

3. Syarat dan Rukun Jual Beli
Rukun umum dalam perbuatan hukum jual beli ada tiga macam. Pertama, adanya pihak penjual dan pihak pembeli. Kedua, adanya uang dan benda. Dan yang ketiga,  Adanya lafaz (ijab qabul)
Adapun rukun jual beli menurut Ulama’ dibedakan menjadi empat macam. Pertama, adanya pihak penjual dan pihak pembeli. Kedua  Adanya uang dan benda. Ketiga, Adanya lafaz (ijab qabul). Dan keempat Ada nilai tukar pengganti barang.
Dalam suatu perbuatan jual beli, ketiga rukun ini hendaklah dipenuhi, sebab jika salah satu rukun tidak terpenuhi, maka perbuatan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai perbuatan jual beli.
Adapun syarat dalam jual beli terdapat empat syarat, yaitu syarat terjadinya akad (in’iqad), syarat sahnya akad, syarat terlaksananya akad (nafaz), dan syarat hukum (kemestian). Secara umum tujuan adanya semua syarat tersebut antara lain untuk menghindari pertentangan di antara manusia, menjaga kemaslahatan orang yang sedang akad, menghindari jual beli gharar (terdapat unsur penipuan) dan lain-lain.
Menurut Ulama’ Hanafiyah Persyaratan yang ditetapkan oleh Ulama’ Hanabilah berkenaan dengan syarat jual beli ada dua macam pertama, Syarat terjadinya akad (In’iqad). Dan yang kedua, syarat aqid (orang yang akad).
Adapun syarat-syarat terhadap kedua belah pihak yang melakukan perjanjian jual beli tersebut haruslah: pertama. Berakal, agar dia tidak tertipu, orang yang gila atau bodoh tidak sah jual belinya. Yang kedua, dengan kehendaknya sendiri (bukan dipaksa) Keduanya tidak mubazir. Dan yang ketiga adalah baliq. Sebab anak kecil atau belum mumayyiz, di pandang tidak sah kecuali dalam perkara-perkara yang ringan atau sepele dikhawatirkan terjadi unsur penipuan dalam hal jual beli dan para Ulama’ fikih sepakat akan hal itu.

4. Macam-Macam Jual Beli
Jual beli dikategorikan menjadi tiga macam yaitu:
a) Berdasarkan perbedaan harga jual dan harga beli
1) Bai’ al-Musawamah
2) Bai’ at-Tauliyah
3) Bai’ al-Murabahah
4) Bai’ al-Muwada’ah

b) Berdasarkan waktu penyerahan terbagi menjadi tiga macam :
1) Bai’ al-Muqayyadah
2) Bai’ al-Mutlaqah

c) Berdasarkan jenis barang pengganti terbagi menjadi dua macam:
1) Bai’ bi Saman Ajil
Menjual dengan harga dasar ditambah dengan margin keuntungan yang telah disepakati dan dibayar secara kredit.
2) Bai’ al-Salam
Jual beli di mana salah satu alat tukar diberikan secara langsung dan yang satu ditunda tapi dengan menyebutkan sifat- sifat dan ciri-ciri barang yang dipesan dengan memberikan jaminan.
Ulama’ Hanafiyah menambah jual beli dari segi sah atau tidaknya menjadi dua yaitu:
a. Jual beli yang shahih
Suatu jual beli dikatakan sebagai jual beli yang shahih apabila jual beli itu disyari’atkan, memenuhi rukun dan syarat yang ditukarkan, bukan milik orang lain, dan tidak tergantung pada hak khiyarnya lagi.
b. Jual beli yang bathil
Jual beli yang bathil apabila salah satu atau seluruh rukunnya tidak terpenuhi, dan pada dasar dan sifatnya tidak disyari’atkan, seperti jual beli bangkai.

-------------------------------
Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K. Lubis, Hukum Perjanjian Dalam Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 1993
Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam, Bandung: CV. Diponegoro, 1984
Hasbi Ash-Shiddiqie. Pengantar Fiqih Muamalah, Semarang: PT. Pustaka Riski Putra,1999
Hendi Suhendi, Fiqih Mua'malah, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002
Moh. Sayfullah al-aziz ,Fikih Islam Lengkap, Surabaya: Terbit Terang,
M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi Dalam Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003
Nasrun Haroen, Fiqih Mua'malah, Jakarta: Gaya Media Pertama, 2000
Rachmat Syafe’I, Fiqih Mua’malah, Bandung: CV. Pustaka Setia, 2001
Syekh Muhammad Amin al-Qirdzi, Tanwirul Qulub, Surabaya: al-Hidayah, tt

1 comment:

  1. Casinos and Games | DRMCD
    Discover the games, 여주 출장마사지 the games, 광양 출장안마 and the places to 용인 출장샵 play. The best online 김포 출장샵 casino in 공주 출장샵 Colorado, You'll find games like table games like blackjack, craps, poker and roulette,

    ReplyDelete